MEDIA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN KOMUNIKASI INFORMASI TEKNOLOGI FORUM SILATURRAHMI KAJIAN ILMIAH ARTIKEL SHOFTWARE EBOOK PENDIDIKAN DAN DAKWAH
Jumat, 25 September 2009
Selasa, 22 September 2009
Melestarikan Nilai-Nilai Ramadhan
September 22, 2009 oleh alhanifs | Sunting
Setelah Ramadhan kita akhiri, bukan berarti berakhir sudah suasana ketaqwaan kepada Allah swt, tapi justeru tugas berat kita untuk membuktikan keberhasilan ibadah Ramadhan itu dengan peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt, karenanya bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang artinya peningkatan. Disinilah letak pentingnya melestarikan nilai-nilai Ibadah Ramadhan.Sekurang-kurangnya, ada lima nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan, paling tidak hingga Ramadhan tahun yang akan datang. Pertama, tidak gampang berbuat dosa. Ibadah Ramadhan yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya membuat kita mendapatkan jaminan ampunan dari dosa-dosa yang kita lakukan selama ini, karena itu semestinya setelah melewati ibadah Ramadhan kita tidak gampang lagi melakukan perbuatan yang bisa bernilai dosa, apalagi secara harfiyah Ramadhan artinya membakar, yakni membakar dosa. Kalau dosa itu kita ibaratkan seperti pohon, maka bila sudah dibakar, pohon itu tidak mudah tumbuh lagi, bahkan bisa jadi mati, sehingga dosa-dosa itu tidak mau kita lakukan lagi Lanjut Baca »
Selamat Idul Fitri 1430H
Baru kali ini aku bisa Online dan menyapa kepada semua ikhwan (PUSTAKA ALHANIF & ALHAIF FAMILY) semua, untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430h kepada semua umat Islam di seluruh dunia yang merayakan kemenangannya. Gema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang dimana-mana, di seluruh jagad raya alam semesta ini, bersatu padu dalam irama membesarkan Allah, memuji dan mensucikan-Nya, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat telah Allah anugerahkan, terutama dapat meraih kemenangan di hari yang fitri ini. Mengungkapkan syukur atas hidayah dan inayah Allah yang begitu besar karena telah berhasil mengikuti rentetan ibadah pada bulan Ramadhan sebagai jaminan untuk mendapatkan ganjaran dan ampunan. Dengan berakhir dan berlalunya bulan Ramadhan dan rangkaian ibadah yang ada di dalamnya; ada dua perasaan yang memuncak dalam jiwa setiap umat; perasaan al-khauf war raja…
Ada perasaan harap dan gembira yang melekat dalam benak kita, senang dan suka cita yang merasuk ke dalam dada, karena setelah selesainya bulan Ramadhan jiwa kita –insya Allah- dikembalikan kepada jati diri yang bersih tanpa noda dan dosa sama seperti saat kita baru dilahirkan dari rahim ibu kita dulu, menjadi fitri (suci) kembali, sebagaimana Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya Allah mewajibkan atas kalian puasa Ramadhan dan aku mensunnahkan qiyam di malam harinya, maka barangsiapa yang berpuasa dan melakukan qiyam karena mengharap ridha dari Allah maka keluarlah dosanya (suci) sebagaimana seperti saat ia baru dilahirkan dari kandungan ibunya”.
Begitu pun ada rasa senang dan gembira karena janji, rahmat, keberkahan, pahala yang berlimpah yang telah disediakan oleh Allah bagi yang berhasil menunaikan ibadah pada bulan Ramadhan, tentunya kita bisa membayangkan dalam diri kita masing-masing saat kita menunaikan ibadah Ramadhan; baik puasanya, qiyamnya, tilawahnya, sedekahnya, dan lain sebagainya.
Adapun kebahagiaan yang paling berharga adalah saat kita berjumpa nanti dengan Allah oleh karena puasa yang telah kita jalankan selama 1 bulan penuh. Fa marhaban yang syahru syiyam, syahru rahmah wal maghfirah, syahru A-Quran wa syahru ni’mah wal barakah.
Namun pada sisi lain kita juga merasa sedih atas berlalunya bulan Ramadhan; sedih karena dengan berlalunya bulan Ramadhan berarti kita akan kembali kepada kehidupan yang biasa, dan kita tidak mengetahui apakah kita akan bersua kembali dengan bulan Ramadhan pada tahun mendatang.
Sedih karena kita khawatir apakah segala amal ibadah kita pada bulan Ramadhan tersebut dapat diterima oleh Allah SWT sehingga kita menjadi orang yang di cap oleh Allah dengan orang yang merugi dan celaka sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw :
“Maka sungguh celaka bagi orang yang diharamkan rahmat Allah di dalam bulan Ramadhan”
Na’udzubillah min dzalik, kita berharap dan memohon kepada yang Maha Kuasa, semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, dilimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta di masukkan ke dalam hamba yang mendapatkan janji-Nya, yaitu surga. Digiring oleh Allah pada golongan hamba-hamba yang masuk ke dalam surge oleh karena puasa dan ibadah kita.Amin
Jumat, 18 September 2009
Dahsyatnya Gelombang Penghancur Iman dan Akhlaq
Dunia Islam seakan menangis menghadapi gelombang dahhsyat itu. Bukan hanya di Indonesia, namun di negara-negara lain pun terlanda gelombang dahsyat yang amat merusak ini.
.......................... Peneliti ini telah mengadakan statistik kumpulan film-film yang ditayangkan untuk anak-anak sedunia, ia mendapatkan bahwa:
- 29,6% film anak-anak bertemakan seks
- 27,4% film anak-anak tentang menanggulangi kejahatan
- 15 % film anak-anak berkisar sekitar percintaan dalam arti syahwat buka-bukaan.
Terdapat pula film-film yang menampilkan kekerasan yang menganjurkan untuk balas dendam, memaksa, dan brutal. selengkapnya......
Kamis, 17 September 2009
Bunga Kehidupan

Masalah, persoalan, pertengkaran, permusuhan adalah bagian dari kehidupan. Namun membiarkannya berlarut-larut akan menjadi nyala api yang membakar semuanya. Bahkan menghanguskan isi bumi. Pernah saya menjumpai seorang ayah dengan sebelas putra yang bisa membesarkan dan mendidiknya menjadi keluarga yang bahagia. Saya tanyakan padanya bagaimana dia bisa melakukan itu semua. Katanya, “Masalah, persoalan, permusuhan adalah guru kearifan, maka hiduplah dengan kearifan. Semuanya masalah, persoalan terasa menjadi bunga kehidupan.” Terlihat wajahnya saya mencium aroma wangi bunga kehidupan yang dihiasi
Mana Yang Terluka
Ikhlas
Bismillaahirrohmaaanirrohiim
Ya Allah, Yang Memiliki Setiap Hati Yang Terluka, yang memiliki setiap hati yang bersedih, yang memiliki setiap hati yang gelisah,
Bimbinglah kami Robb, agar kami selalu diberi kekuatan dalam menempuh perjalanan hidup ini dengan ikhlas,
Karena kami yakin bahwa ikhlas dapat meringankan suatu perjalanan yang berat,
Ikhlas adalah satu kata yang mudah diucapkan tapi memang sulit untuk dilakukan karena ini adalah perkara hati,
dan bukan hanya ikhlas, biasanya sesuatu yang berhubungan dengan perkara hati memang butuh penanggulangan lebih extra,
sederhanya bagaimana kita bisa ikhlas adalah seberapa jauh kita yakin bahwa apa apa yang ada di tangan kita ini murni semuanya hanya titipan,
berat rasanya untuk ikhlas kalau kita masih merasa memiliki sesuatu, dan sesungguhnya rasa memiliki itu juga adalah sebahagian dari sifat nafsu,
jadi sekarang tinggal kita belajar bagaimana keyakinan ini agar terus bertambah, bahwa semuanya hanya milik Allah,
sahabat, coba renungkanlah inti dari makna kalimat diatas, semoga kita bisa menjalani hidup ini selalu di naungi dengan sikap ikhlas,
tapi ingat iklhlas itu adanya dihati bukan di aksi, karena ikhlas dengan pasrah adalah hal yang 180 derajat berbeda
dan semoga Allah selalu melapangkan hati kita semua, agar kita tidak terlalu merasa kehilangan dikala apa yang ada di tangan kita itu pergi, insya Allah
Berkaca pada Si Bocah(renungan 1/3 bulan)
--- Pada Sel, 15/9/09, Igit Kurniawan Rabu, 16 September 2009
Muhasabah Harian
- Apakah anda setiap hari selalu shalat shubuh berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)
- Apakah anda selalu menjaga shalat yang 5 waktu berjamaah di masjid ? (bagi ikhwan)
- Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an?
Selasa, 15 September 2009
Ukhuwah Islamiyyah
Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Al hujarot (qs 49-10)
10. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." al hasyr (59-10)
9. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung
Jumat, 11 September 2009
Anak dan Masa Depan Umat Islam
Anak dan Masa Depan Umat Islam
Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan amat lengket di benak kita. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang ia sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka. Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam. selengkapnya....